stop-plagiarism

Produksi perikanan tangkap dan budidaya Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 tercatat jumlah produksi ikan air tawar sebanyak 2.763.222 ton, pada tahun 2013 meningkat menjadi 4.921.635 ton atau setara dengan 78 % (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, 2013). Data tersebut didapatkan dari berbagai jenis budidaya ikan air tawar seperti tambak, kolam, keramba, jaring apung, dan sawah karakteristik fisik ikan wader.
Peningkatan jumlah produksi ikan air tawar merupakan potensi bahan lokal yang perlu dikembangkan. Selama ini, ikan air tawar hanya di konsumsi secara langsung sehingga memiliki nilai ekonomi dan nilai tambah yang rendah. Untuk meningkatkan nilai tambah ikan air tawar salah satunya dengan diversifikasi produk. Witono, dkk (2014) menyatakan salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah ikan air tawar inferior adalah dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku industri pangan komersial seperti pembuatan flavor enhancer.
Ikan air tawar memiliki beberapa kelemahan seperti duri yang rapat, beraroma amis, dan berbau tanah serta bersifat high perishable (sangat mudah rusak) (Witono, 2014). Untuk itu diperlukan teknik preparasi yang tepat guna memisahkan bagian-bagian ikan sehingga diperoleh fillet untuk memudahkan dalam proses selanjutnya. Ada beberapa teknik preparasi yang digunakan, salah satunya pada penelitian Irawan (1997) menggunakan teknik preparasi ikan secara fisik yaitu dengan menyayat ikan segar secara langsung. Teknik preparasi lainnya yang sering digunakan yaitu dengan cara mekanik (Sastro, 2011), kimia (Nurani, 2010), dan enzimatis (Silaban, 2009).
Teknik preparasi secara fisik merupakan proses awal pengolahan ikan yang dilakukan secara langsung pada ikan segar yaitu dengan cara filleting. Teknik preparasi mekanik dengan cara memberikan perlakuan suhu tinggi pada ikan yaitu blanching. Teknik preparasi kimia dengan cara merendam ikan dalam larutan kimia sedangkan teknik preparasi secara enzimatis dilakukan dengan cara merendam ikan dalam larutan enzim protease. Ikan air tawar di Indonesia cukup beragam, ada beberapa ikan yang belum termanfaatkan dengan baik diantaranya ikan wader, bader, dan patin (Cahyono, 2000). Jenis ikan tersebut banyak digemari masyarakat, namun hanya dikonsumsi lokal sebagai lauk dan memiliki nilai ekonomi rendah (Budiharjo, 2002). Ikan wader, bader, dan patin memiliki morfologi yang berbeda-beda sehingga dalam teknik preparasinya perlu penanganan yang berbeda pula. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan teknologi yang tepat pada teknik preparasi ikan air tawar sehingga dapat meningkatkan nilai ekonominya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here