stop-plagiarism

Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia (Dinas Pertanian, 2008).
Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni Cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika. Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabai juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industri makanan dan industri obat-obatan atau jamu (Dinas Pertanian, 2008).
Pada umumnya cabai dapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 2000 meter dpl. Cabai dapat beradaptasi dengan baik pada temperatur 24 – 27 derajat Celsius dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi (Dinas Pertanian, 2008).
Pemanasan global (global warming) telah mengubah kondisi iklim global, regional, dan lokal. Perubahan iklim global disebabkan antara lain oleh peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat berbagai aktivitas yang mendorong peningkatan suhu bumi. Mengingat iklim adalah unsur utama dalam sistem metabolisme dan fisiologi tanaman, maka perubahan iklim global akan berdampak buruk terhadap keberlanjutan pembangunan pertanian (Andriyani, 2009)
Untuk menghadapi dampak buruk pemanasan global dapat dilakukan dengan berbagai strategi, diantaranya strategi adaptasi. Strategi adaptasi adalah pengembangan berbagai upaya yang adaptif dengan situasi yang terjadi akibat dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya infrastruktur dan lain-lain. Antara lain melalui rekayasa iklim mikro. Iklim mikro didefinisikan sebagai keadaan atmosfer di sekitar tempat tumbuh tanaman, tempat hidup hewan dan manusia
(Wiesner, 1970 dalam Andriyani, 2009). Melakukan rekayasa iklim mikro berarti melakukan rekayasa terhadap lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman (Andriyani, 2009)
Rekayasa iklim mikro penting untuk dilakukan karena pemanasan global menyebabkan berbagai anomali iklim yang berpengaruh terhadap iklim mikro. Dengan mengetahui karakteristik iklim mikro pada berbagai perlakukan rekayasa iklim diharapkan dapat dijadikan dasar bagi pengembangan rekayasa iklim mikro yang lebih lanjut. Sehingga anomali iklim yang terjadi dapat diminimalisasi dengan rekayasa iklim mikro yang tepat (Andriyani, 2009).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here