stop-plagiarism

Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama diseluruh dunia (Kementrian Kesehatan RI, 2015). SITOTOKSISITAS EKSTRAK ETANOL PADA SEL KANKER PAYUDARA, Menurut Badan InternasionalPenelitian Kanker, kasus penderita kanker mengalami peningkatan dari 12,7 jutapada tahun 2008 menjadi 14,1 juta pada tahun 2012. Angka kematian akibatkanker juga meningkat dari 7,6 juta kasus pada tahun 2008 menjadi 8,2 juta kasus pada tahun 2012. Diperkirakan, dalam jangka waktu lima belas tahun ke depan,terdapat sekitar 32,6 juta lebih penderita kanker di dunia (IARC, 2013).Salah satu jenis kanker yang terjadi hampir seluruhnya pada wanitaadalah kanker payudara. Kanker payudara merupakan tumor ganas yang memulaipertumbuhannya pada sel-sel payudara (ACS, 2015). Penyakit kanker payudara diIndonesia memiliki presentase tertinggi pada tahun 2012, yaitu sebesar 43,3% danpersentase kematian akibat kanker payudara sebesar 12,9% (Kementrian Kesehatan RI, 2015). Saat ini terapi yang sering digunakan untuk mengobati penyakit kankeradalah kemoterapi dan radiasi. Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat kemoterapi beredar dalam aliran darah danmerusak sel-sel kanker yang aktif tumbuh dan membelah lebih cepat dari sel normal. Penggunaan kemoterapi juga dapat memberikan efek samping yaituadanya kerusakan sel-sel normal (ASCO, 2015). Terapi radiasi menggunakanradiasi energi tinggi yang berfungsi untuk mengecilkan tumor dan membunuh selsel kanker. Terapi radiasi juga dapat merusak sel-sel normal yang terdapat disekitar sel kanker (NCI, 2010). Kegagalan terapi pada kanker dapat disebabkankarena resistensi obat dan toksisitas (Andalusia, 2015). Bentuk toksisitas dari obatkanker adalah menurunnya imunitas tubuh. Oleh karena itu, perlu dilakukanpengembangan obat baru yang memiliki efek samping yang relatif kecil serta selektif terhadap sel kanker, salah satunya yaitu dengan melakukan skrining bahanalam (Mangan, 2013). Indonesia merupakan negara kedua yang memiliki keanekaragaman hayatiterbesar setelah Brasilia. Indonesia ditumbuhi sekitar 37.000 jenis tumbuhan tinggi dari 155.475-183.025 tumbuhan yang ada di dunia. Berdasarkan jumlah tersebut, sekitar 14.800-18.500 tumbuhan merupakan tumbuhan endemik Indonesia. Beberapa diantaranya dimanfaatkan sebagai bahan obat (Bakosurtanal, 2001). Salah satu tumbuhan yang memiliki potensi untuk terapi antikanker adalah kayu kuning (Arcangelisia flava) (Keawpradub et al., 2005). Menurut Hidayat dan Risna (2007), tumbuhan ini merupakan jenis tumbuhan dengan kategori rawan dan langka. Meskipun dalam jumlah yang sedikit, tumbuhan inisudah mulai dieksploitasi. Walaupun langka, A. flava dapat ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri, Jember (Sholichah dan Purnomo, 2010). Bagian daun pada tumbuhan A. flava memiliki kandungan senyawa golongan alkaloid protoberberin, yang terdiri dari berberin, palmatin, dan jatrorrhizin. Berberin memiliki banyak aktivitas yang mendukung sebagai antikanker. Senyawa ini mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara MCF-7 dan MDA-MB-231 (Kim et al., 2010), memberikan efek penghambatan pada proliferasi dan reproduksi mikroorganisme tumorigenik tertentu, memiliki inhibitor enzim yang dapat mempengaruhi N-asetiltransferase, siklooksigenase-2, dan topoisomerase pada ekspresi gen/protein serta menurunkan pertumbuhan tumor dan metastasis sel (Sun et al., 2009). Berberin juga mampu memberikanbeberapa penghambatan pada mitokondria kompleks I dan interaksi dengan adenin nukleotida translocator (Diogo et al., 2015). Efek antipoliferasi berberin terhadap sel MCF-7 mempunyai IC50 sebesar 20 μmol/l (Sun et al, 2009). Senyawa lain yang berpotensi sebagai anti kanker yaitu senyawa palmatin. Senyawa ini berpotensi sebagai antikanker pada kulit tikus albino Swiss (Ali dan Dixit, 2013). Selain itu kelompok 13-n-alkil palmatin memiliki efek sitotoksik yang kuat pada tikus dengan S180 sarkoma xenograf in vivo (Zhang et al., 2012). Pada penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa ekstrak metanol kulit batang A. flava memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel MCF-7 dengan IC50 sebesar 7,7 ± 0,6 μg/ml (Keawpradub et al., 2005). Ekstrak etanol tumbuhan A. flava juga dapat memberikan efek penghambatan terhadap poliferasi sel HeLa dengan IC50 sebesar 49,96 ug/ml (Febrinasari, 2012). Pada penelitian sebelumnya,bagian kayu tumbuhan A. flava sering
digunakan sebagai bahan obat, dengan cara menebang keseluruhan dari pohonnya, sehingga terjadi peningkatan kepunahan A. flava. Apalagi pertumbuhannya lambat, sehingga regenerasinya tidak terjamin (Setyowati dan Wardah, 2007). Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini digunakan daun A. flava sebagai bahan utama. Karena daun A. flava memiliki kandungan yang mirip dengan batang, yaitu mengandung senyawa berberin (Larisu, 2011), serta tersedia dalam jumlah yang cukup banyak daripada batang dan akar (BAU, 2014). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi obat alternatif antikanker yang lebih efektif dengan dasar dilakukannya uji sitotoksisitas. Selain itu juga diharapkan memiliki nilai selektivitas yang tinggi, agar tidak merusak pertumbuhan sel normal yang terdapat di sekitar sel kanker dengan dasar dilakukannya uji selektivitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here