stop-plagiarism

Ibuprofen merupakan obat pertama turunan asam propionat yang diperkenalkan pertama kali sebagai alternatif terbaik dari aspirin karena memiliki efek samping lebih ringan dibandingkan aspirin, POLIETILEN GLIKOL DAN POLIVINILPIROLIDON. Mekanisme kerjanya adalah inhibitor non-selective pada enzim siklooksigenase-1 dan siklooksigenase-2 (Bushra dan Aslam, 2010). Ibuprofen digunakan untuk mengobati nyeri dan inflamasi pada penyakit rematik (termasuk juvenile idiopathic arthritis). Obat ini juga dapat digunakan untuk gangguan muskuloskeletal lainnya seperti nyeri ringan sampai sedang termasuk dysmenorrhoea, analgesik pasca-operasi, migrain, sakit gigi, dan demam pada anak-anak, serta demam pasca-imunisasi (BNF, 2009). Sediaan ibuprofen oral memiliki efek samping merugikan seperti rasa tidak nyaman di lambung, mual, muntah, gastric erosion, sakit kepala dan karena obat ini diberikan dalam waktu lama pada pengobatan gangguan rheumatoid arthritis maka masalah kepatuhan bisa timbul (Madhulatha dan Naga, 2013). Pengembangan bentuk sediaan transdermal patch ibuprofen dilakukan untuk meminimalkan efek samping ibuprofen pada pemberian peroral. Sistem penghantaran obat transdermal adalah sistem penghantaran bahan aktif obat yang terjadi melalui lapisan kulit (Yadav et al., 2011). Sediaan transdermal tidak hanya meningkatkan kepatuhan pasien tetapi juga menjaga keseragaman konsentrasi obat dalam plasma selama pemakaian dibandingkan dengan sediaan peroral. Patch lebih dipilih dibandingkan pemberian secara intravena karena tidak menimbulkan rasa sakit, kerusakan jaringan dan menghilangkan rasa takut pasien
(William dan Barry, 2004). Syarat suatu obat dapat dibuat dalam bentuk transdermal patch diantaranya adalah berat molekul kecil (< 500 Da) (Benson, 2005), waktu paruh < 10 jam, memiliki nilai koefisien partisi oktanol/air (log Poct/air) antara 1 dan 4, bioavailabilitas obat secara oral rendah, dan indeks terapi sempit (Yadav et al., 2011). Ibuprofen ((±)-2-(p-isobutilfenil) asam propionat) memiliki rumus molekul C 13 dan berat molekul 206,28 (Depkes RI, 1995). Senyawa ini mempunyai titik lebur 75 –77 ºC dengan pKa 4,4 ; 5,2 dan log P (oktanol/air) 4,0 (Moffat et al., 2005). Ibuprofen memiliki bioavailabilitas secara oral kurang dari 80 % dan waktu paruh 2 jam (Nirja et al., 2013). Kemampuan pelepasan obat dari polimer merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu patch. Partikel obat pertama-tama harus terlarut sehingga terbentuk molekul yang dapat berdifusi melewati polimer, kemudian obat akan berpenetrasi melewati kulit. Ada 2 sistem transdermal patch yaitu tipe matriks atau monolitik dan tipe membran atau reservoir (Ansel, 1995). Pada penelitian ini, dibuat tipe matriks karena bentuk sediaan yang lebih kecil dan lebih tipis, lebih mudah, cepat, dan biaya relatif murah (Wardhani et al., 2014). Patch dapat digunakan untuk mengontrol penghantaran obat dengan menggunakan kombinasi yang tepat dari polimer hidrofilik dan hidrofobik (Khan et al., 2011). Campuran kedua polimer ini digunakan sebagai matriks. Polimer hidrofilik yang dipilih dalam penelitian ini adalah polietilen glikol 6000 dan polivinilpirolidon K-30 sedangkan polimer hidrofobik menggunakan etil selulosa karena paling banyak digunakan dalam penelitian. Penggunaan polimer hidrofilik seperti PVP K-30 dengan konsentrasi yang tinggi disertai dengan polimer hidrofobik dengan konsentrasi rendah dapat meningkatkan laju pelepasan obat tersebut (Wardhani et al., 2014). PVP K-30 dan PEG 6000 akan menyebabkan media disolusi mudah berpenetrasi kedalam matrix sehingga difusi bahan obat dapat cepat terjadi. Agar pelepasan obat lebih terkontrol maka perlu dilakukan modifikasi sifat polimer dengan menggunakan campuran polimer yang bersifat hidrofilik dan hidrofobik. Penambahan PVP K-30 dalam larutan etil selulosa menyebabkan terbentuknya pori-pori sehingga menyebabkan laju pelepasannya konstan (Kandavilli et al., 2002).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here