stop-plagiarism

Merokok telah menjadi salah satu kebiasaan yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan manusia. PENGARUH SARI BUAH KURMA? kok bisa, Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan pria dewasa tetapi juga wanita dan anak-anak. Setiap tahun, jumlah perokok di dunia akan terus bertambah karena terjadi peningkatan jumlah populasi. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, penggunaan rokok di dunia sebanyak 32,9% pria dan 18,4% wanita dari total penduduk di dunia. Lebih dari 80% perokok di seluruh dunia berada di negara berkembang. Pada tahun 2008, jumlah konsumen rokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India (WHO, 2008). Prevalensi perokok aktif di Indonesia pada tahun 2010 sebesar 64,9% pria dan 2,1% wanita (BPPK, 2013). Perilaku merokok penduduk Indonesia cenderung meningkat dari 34,2% pada tahun 2007 dan menjadi 36,3% pada tahun 2013. Tingginya jumlah perokok aktif berbanding lurus dengan jumlah perokok pasif yang terpapar asap rokok orang lain (WHO, 2013). Asap rokok terdiri atas asap utama (main stream smoke) yaitu asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok melalui mulut dan asap sampingan (side stream smoke) yaitu asap dari ujung rokok yang terbakar dan asap yang disebarkan ke udara bebas oleh perokok. Asap sampingan inilah yang akan dihirup orang lain atau yang disebut perokok pasif (Sitepoe, 2000). Perokok pasif jauh lebih berbahaya dibandingkan perokok aktif karena perokok pasif tidak memiliki filter dalam menyerap seluruh asap rokok yang dikeluarkan perokok aktif (Nururrahmah, 2014). Komponen asap rokok seperti nikotin, tar dan karbon monoksida dapat memicu terbentuknya radikal bebas pada berbagai sel tubuh dan dapat menyebabkan terjadinya reaksi berantai yang dapat menyebar ke seluruh sel sehingga terjadi kerusakan sel (Rahmi, 2012). Merokok dapat merugikan kesehatan karena mengakibatkan banyak penyakit seperti penyakit paru, penyakit jantung, penyakit pada sistem respirasi, kanker, impotensi, dan infertilitas pada pria (Sitepoe, 2000). Penelitian menyatakan bahwa ditemukan sejumlah besar Reactive Oxygen Species (ROS) di dalam sampel cairan semen dari 25% hingga 40% pria infertil, ini membuktikan adanya ROS yang berlebihan di dalam saluran reproduksi jantan dapat mengakibatkan kerusakan fungsi sperma sehingga menyebabkan infertilitas (Agarwal dan Saleh, 2002). Infertilitas adalah suatu keadaan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah kualitas spermatozoa yang kurang baik (Agarwal, 2005). Penurunan kualitas spermatozoa terjadi karena peningkatan ROS atau stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan Deoxyribonucleic Acid (DNA)spermatozoa dan peningkatan apoptosis spermatozoa (Agarwal dan Said, 2005). Stres oksidatif juga dapat menyebabkan kerusakan membran spermatozoa (Fitriani et al, 2010). Ada pula penelitian yang dilakukan oleh Agarwal et al. (2003), yang menyatakan bahwa radikal bebas dapat menyebabkan penurunan motilitas spermatozoa karena terjadinya aglutinasi spermatozoa. Penurunan kualitas spermatozoa dapat menyebabkan berkurangnya jumlah spermatozoa normal karena terganggunya proses spermatogenesis (Putra, 2014). Pembentukan senyawa radikal bebas yang tidak segera dinetralkan oleh antioksidan dapat menimbulkan terjadinya stres oksidatif. Senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi dengan cara mengikat radikal dan molekul yang sangat reaktif sehingga dapat menghambat kerusakan sel disebut antioksidan (Idrus et al., 2014). Secara fisiologis sebenarnya tubuh sudah mempersiapkan diri untuk menangkal radikal bebas dengan tersedianya antioksidan (Hariyatmi, 2004). Akan tetapi, dengan peningkatan jumlah radikal bebas dalam tubuh, maka perlu adanya asupan antioksidan tambahan. Senyawa antioksidan diantaranya adalah flavonoid, β- karoten, vitamin E, vitamin C, bilirubin, dan albumin (Gheldof et al., 2002). Zat-zat gizi mineral seperti mangan, seng, tembaga dan selenium (Se)juga berperan sebagai antioksidan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here