stop-plagiarism

Glibenklamid atau gliburid merupakan salah satu obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea generasi kedua yang digunakan untuk pengobatan diabetes mellitus tipe II. Mekanisme kerja dari glibenklamid adalah merangsang pelepasan insulin dari sel beta pankreas. Berdasarkan Biopharmaceutical Classification System (BCS), glibenklamid termasuk dalam BCS kelas II yang berarti glibenklamid memiliki kelarutan rendah dan memiliki bioavailabilitas yang baik. Jika kelarutan suatu obat rendah, maka dapat mengakibatkan disolusinya jelek dan bioavailabilitas yang tidak terduga (Dhillon et al., 2014).  Upaya peningkatan kelarutan suatu bahan obat dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain adalah dengan melakukan modifikasi fisika seperti mereduksi ukuran partikel (mikronisasi), modifikasi sifat kristal (polimorfisme), dispersi obat dalam carrier (dispersi padat), pembentukan kompleks inklusi, dan solubilisasi (mikroemulsi); modifikasi kimia; dan metode lain seperti kokristalisasi, kosolvensi, dan nanoteknologi (Mohanachandran et al., 2010; Voight, 1995).
Salah satu cara untuk meningkatkan kelarutan suatu bahan obat adalah pembentukan kompleks inklusi. Kompleks inklusi merupakan kompleks yang terbentuk dari molekul kimia (guest) yang terperangkap dalam rongga atau dalam kanal molekul tuan rumah (host) karena gaya Van Der Walls tanpa terbentuknya ikatan kovalen (IUPAC Compedium of Chemical Terminology, 1997). Pembentukan kompleks inklusi dapat mengakibatkan perubahan sifat-sifat fisikokimia molekul obat seperti kelarutan, laju disolusi, reaktivitas kimia, dan konstanta disosiasinya (Abdou, 1989).  Pembentukan kompleks inklusi dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan siklodekstrin. Siklodekstrin (CD) adalah molekul torus yang berbentuk siklik dengan permukaan luar bersifat hidrofilik dan rongga tengah bersifat lipofilik yang dapat menampung berbagai obat lipofilik. Siklodekstrin dihasilkan dari pati dengan cara konversi enzimatik. Siklodekstrin adalah oligosakarida siklik yang mengandung enam (α-CD), tujuh (β-CD) atau delapan (γ-CD) glukopiranosa yang terikat pada posisi α-1,4 (Kumar et al., 2013). Siklodekstrin yang sering digunakan adalah β-siklodekstrin karena mudah didapatkan, harganya paling murah jika dibandingkan dengan jenis siklodekstrin yang lain, lebih mudah larut dalam air dibandingkan dengan jenis siklodekstrin yang lain, memiliki diameter yang paling baik untuk menangkap molekul guest, dan umumnya paling berguna (Valle, 2003;Kumar et al., 2013). Penelitian yang dilakukan Prasad et al (2014) mengenai pembentukan kompleks inklusi glibenklamid dengan β-siklodekstrin menggunakan metode kneading, metode kopresipitasi dan metode netralisasi dalam rasio molaritas 1:2 menunjukkan bahwa pembentukan kompleks inklusi dengan metode netralisasi memberikan profil disolusi yang paling baik dibandingkan dengan metode lain yang digunakan. Mengacu pada penelitian tersebut, maka pada penelitian ini dilakukan pembentukan kompleks inklusi glibenklamid dan β-siklodekstrin menggunakan metode netralisasi. Pada beberapa penelitian mengenai pembentukan kompleks inklusi antara bahan obat dengan β-siklodekstrin menunjukkan bahwa adanya perbedaan rasio molaritas bahan obat dengan β-siklodekstrin dapat mempengaruhi kelarutan atau laju disolusi bahan obat tersebut. Misalnya pada kompleks inklusi metotreksat dan β- siklodekstrin dengan rasio molaritas 1:7 dapat meningkatkan kelarutannya dalam air sebanyak 10 kali lipat (Bourkaib et al., 2012). Pada kompleks inklusi karvedilol dan β-siklodekstrin dengan rasio molaritas 1:3 memberikan profil disolusi yang lebih optimum daripada rasio molaritas 1:1 dan 1:2 (Pamudji et al., 2014). Kompleks inklusi antara nimesulida dan β-siklodekstrin dengan rasio molaritas 1:2 memberikan persentase pelepasan obat yang paling tinggi dibandingkan dengan rasio molaritas 1:1 dan 1:1,5 (Saharan et al., 2009). Serta kompleks inklusi antara ramipril dan β- siklodekstrin dengan rasio molaritas 1:2 memberikan laju disolusi dan nilai efisiensi disolusi yang lebih cepat dibandingkan dengan rasio molaritas 1:1 dan 1:3 (Chandrakant et al., 2011). Berdasarkan penjelasan mengenai perbedaan rasio molaritas yang dapat mempengaruhi disolusi, maka pada penelitian kali ini akan dilakukan pembentukan kompleks inklusi antara glibenklamid dan β-siklodekstrin dengan berbagai rasio molaritas yaitu 1:1, 1:2, 1:3, dan 1:4 menggunakan metode netralisasi. Kompleks inklusi yang terbentuk diuji kelarutan dan uji disolusi. Uji disolusi dilakukan untuk membandingkan profil disolusi dan persentase pelepasan glibenklamid murni dengan kompleks inklusi glibenklamid dan β-siklodekstrin yang diperoleh. Kompleks inklusi selanjutnya dikarakterisasi menggunakan spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan formula terbaik dikarakterisasi dengan Differential Scanning Calorimetry (DSC).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here