stop-plagiarism

Pengaruh konseling terhadap ibu hamil apakah penting? Gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Zat besi merupakan salah satu zat gizi penting yang harus dipenuhi kebutuhannya. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan pada pertumbuhan fisik. Kecukupan akan zat besi berbeda bagi masing-masing individu. Kebutuhan zat besi pada wanita tiga kali lebih besar dibanding pada pria karena setiap bulan wanita mengalami menstruasi. Individu yang paling rawan terhadap kekurangan zat besi ialah ibu hamil. Ibu hamil membutuhkan zat besi yang lebih banyak untuk pertumbuhan dan perkembangan janinnya. Kebutuhan zat besi pada wanita hamil tiga kali lebih besar dibandingkan wanita tidak hamil (Depkes RI, 2008).
Namun, tidak semua ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan akan zat besi. Anemia Defisiensi Besi (ADB) merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil dikatakan anemia pada saat kadar hemoglobin (Hb) di bawah 11g/dL selama trimester III (Sulistyoningsih, 2012). Goshtasebi (2012) menyatakan bahwa anemia pada kehamilan ialah ketika kadar Hb di bawah 10,5g/dL pada trimester II dan di bawah 11g/dL selama trimester III. Data di lapangan menunjukkan bahwa frekuensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5% dan didominasi oleh ADB (Saifuddin, 2006).
Anemia pada ibu hamil bukan tanpa risiko. Kekurangan zat besi akan berisiko pada janin dan ibu hamil sendiri. Janin akan mengalami gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Selain itu, mengakibatkan kematian pada janin dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Waryana, 2010). Pada ibu hamil, anemia defisiensi besi berat dapat mengakibatkan kematian (Basari, 2007). Data Direktorat Kesehatan Keluarga menunjukkan bahwa 40% penyebab kematian adalah pendarahan dan risiko pendarahan ini akan lebih diperberat apabila ibu hamil menderita ADB (Depkes RI, 2008). Upaya pemerintah untuk mengatasi anemia ialah dengan cara memberikan suplemen tablet besi minimal 90 tablet (Depkes RI, 2010). Tujuan pemberian suplemen tablet besi adalah mengurangi BBLR, meningkatkan kelangsungan hidup bayi di Indonesia, dan menurunkan angka kematian ibu hamil akibat anemia dan pendarahan saat melahirkan. Suplemen tablet besi dianggap cara paling efektif karena memiliki kandungan besi sebesar 60 mg dalam bentuk fero sulfat dan dilengkapi dengan asam folat sebesar 0,25 mg yang sekaligus dapat mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan asam folat (Titaley, 2012). Konsumsi suplemen tablet besi dapat mengurangi angka ibu hamil yang terkena anemia defisiensi besi (Purwaningsih, 2013).
Indreswati (2008) dalam Iswanto (2008), menyatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan masih tingginya anemia defiensi besi pada ibu hamil adalah rendahnya kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi. Sebanyak 74.16% ibu hamil di Jakarta Timur dan Jakarta Barat dinyatakan tidak patuh mengonsumsi tablet besi. Rendahnya kepatuhan dipengaruhi oleh faktor kurangnya pengetahuan (Schultink, 1993). Kurangnya pengetahuan meningkatkan risiko anemia pada kehamilan sebesar 1,45 kali lebih besar dibanding dengan mereka yang berpengetahuan baik (Mulyati, 2007). Menurut hasil penelitian Iswanto (2012), semakin baik pengetahuan ibu hamil tentang anemia defisiensi besi maka semakin patuh ibu hamil mengonsumsi suplemen tablet besi. Faktor lain yang menjadi penyebab masih tingginya penderita anemia defisiensi besi pada ibu hamil ialah karena pemikiran ibu hamil yang menganggap bahwa kandungannya dalam keadaan baik-baik saja dan juga akibat rasa mual yang ditimbulkan (Puspitaningrum, 2013). Mual pada masa hamil adalah proses fisiologi sebagai dampak dari terjadinya adaptasi hormonal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here