stop-plagiarism

Berbahayakah pengaruh ekstrak metanol? Pertambahan populasi penduduk yang tidak terkendali merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh negara berkembang (Brewis dan Cambie, 1997). Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga mengalami permasalahan tersebut. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 237.641.326 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2010). Jumlah penduduk yang terus meningkat ini dapat mempengaruhi kehidupan sosial karena jumlah penduduk yang besar memerlukan perhatian dalam penyediaan bahan pangan, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Oleh karena itu, permasalahan peningkatan jumlah penduduk harus diatasi agar tidak mengakibatkan permasalahan lain seperti meningkatnya pengangguran, kemiskinan, dan lain-lain.
Pemerintah Indonesia berupaya untuk mengurangi angka kelahiran melalui program Keluarga Berencana (KB). Untuk melaksanakan program KB dibutuhkan adanya metode kontrasepsi. Saat ini program Keluarga Berencana masih menjadikan perempuan sebagai sasaran utama, sedangkan laki-laki belum berperan aktif. Oleh karena itu, sasaran KB perlu diperluas kepada laki-laki, sehingga suami dapat menggantikan istri apabila istri tidak dapat mengikuti program KB dengan alasan kesehatan. Menurut Sumaryati (2004), metode kontrasepsi khususnya untuk laki-laki antara lain kondom, senggama terputus (coitus interruptus), dan vasektomi. Namun metode kondom, senggama terputus, dan vasektomi memiliki beberapa kekurangan. Penggunaan kondom juga dapat menyebabkan alergi dan iritasi pada kulit, sedangkan senggama terputus dapat mengurangi kenikmatan seksual bagi suami istri. Pelaksanaan vasektomi tidak secara langsung efektif karena memerlukan waktu yang cukup setelah sperma benar-benar tidak ditemukan berdasarkan hasil analisis semen. Selain itu vasektomi memiliki efek samping antara lain timbulnya bengkak pada organ reproduksi, infeksi, dan pendarahan bila pengguna vasektomi melakukan kerja fisik yang berat (Mochtar, 1998).  Penelitian untuk menciptakan metode kontrasepsi perlu dikembangkan dengan memanfaatkan bahan alam karena Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Penelitian mengenai tanaman antifertilitas mulai dikembangkan dengan mengkaji informasi dari pengetahuan obat tradisional. Pemanfaatan bahan alam sebagai agen antifertilitas harus memenuhi beberapa syarat, yaitu aman bagi kesehatan, dapat menurunkan jumlah spermatozoa, mempunyai efek samping sekecil- kecilnya, dapat dipulihkan kembali dalam jangka waktu tertentu, dan bekerja spesifik (Ermayanti, 2000).
Biji pepaya diketahui memiliki aktivitas antifertilitas. Kothari et al. (2003)menyatakan bahwa ekstrak air biji pepaya dapat mempengaruhi fertilitas sperma tikus putih jantan. Penelitian Verma dan Chinoy (2001) menjelaskan bahwa ekstrak air biji pepaya yang diberikan secara intramuskular mempengaruhi komposisi senyawa dalam epididimis pada tikus albino jantan. Dalam penelitian Lohiya (2002) diketahui bahwa ekstrak kloroform biji pepaya dapat menyebabkan degenerasi sel leydig, sel sertoli, serta menghambat pematangan sel germinal dalam testis. Fraksi n-heksana dan fraksi metanol biji pepaya memiliki kemampuan dalam menghambat proses spermatogenesis (Satriyasa dan Pangkahila, 2010). Apabila biji pepaya berpengaruh terhadap fungsi reproduksi jantan maka biji pepaya berpengaruh juga terhadap hormon reproduksi jantan serta bobot organ reproduksi jantan. Hormon testosteron merupakan hormon reproduksi jantan yang berperan dalam proses spermatogenesis, pematangan sperma, serta pengaturan libido untuk mempertahankan kejantanan pria. Sedangkan bobot organ reproduksi merupakan indikator adanya kerusakan sel dan disfungsi organ reproduksi (Bella dan Tom, 2008). Untuk itulah pengaruh biji pepaya terhadap kadar hormon testosteron dan bobot organ reproduksi jantan perlu diteliti lebih lanjut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here