stop-plagiarism

Masalah kemiskinan dewasa ini bukan saja menjadi persoalan bangsa Indonesia. Kemiskinan telah menjadi isu global dimana setiap negara merasa berkepentingan untuk membahas kemiskinan, terlepas apakah itu negara berkembang maupun sedang berkembang. Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan yaitu tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Masyarakat miskin merupakan masyarakat dengan penghasilahn kurang dari US$ 2 per hari(Rejekiningsih, 2011). Salah satu masalah utama yang dihadapi Indonesia dalam pelaksanaan pembangunan adalah kemiskinan (Pitapurwati, 2014). Salah satu upaya penurunan angka kemiskinan untuk masyarakat Indonesia adalah pembagian beras miskin
(RASKIN). Program RASKIN ini diawali dengan program operasi pasar khusus beras pada tahun 1998. Operasi ini merupakan tindak lanjut dari adanya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997, disertai kemarau kering dan bencana kebakaran hutan dan ledakan serangan hama belalang dan hama wereng coklat yang telah menyebabkan penurunan produksi pangan (Musawa, 2009). Program RASKIN adalah salah satu program penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat berupa bantuan RASKIN kepada rumah tangga berpendapatan rendah (rumah tangga miskin dan rentan miskin). Penyaluran RASKIN ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran para rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM) dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras. Selain itu juga untuk meningkatkan akses rumah tangga sasaran dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok, sebagai salah satu hak dasarnya. Sasaran program RASKIN tahun 2015 adalah berkurangnya beban pengeluaran 15.530.897 RTS dalam mencukupi kebutuhan pangan beras melalui penyaluran RASKIN dengan alokasi sebanyak 15 kg/ RTS/bulan. Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) program RASKIN adalah rumah tangga yang berhak menerima beras dari program RASKIN 2015 sesuai data yang diterbitkan dari basis data terpadu yang dikelola oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), yang telah dimutakhirkan berdasarkan pelaporan hasil musyawarah desa/ musyawarah kelurahan (mudes/ muskel) tahun 2014 yang tertuang di dalam Formulir Rekapitulasi Pengganti (FRP) 2014 dan telah dilaporkan ke Sekretariat TNP2K sesuai tenggat yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Kemenko Kesra RI dan data rumah tangga hasil pemutakhiran Daftar Penerima Manfaat (DPM)oleh musyawarah desa/kelurahan/pemerintah setingkat (Laksono, 2015). Pembagian RASKIN dari tim pelaksana distribusi RASKIN kepada RTS-PM dilakukan sesuai petunjuk teknis yang ditetapkan oleh TNP2K. Data RTS-PM merupakan data hasil Pendataan Program Pelindungan Sosial (PPLS) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang kemudian RTS-PM ditetapkan oleh TNP2K. Pencatatan data dan penetapan penerima RASKIN biasanya dilakukan dengan melihat data dari BPS, pencatatan data menyebabkan timbulnya masalah yaitu RTS-PM yang menerima RASKIN tidak sesuai kriteria yang ada. Hal tersebut menyebabkan kurang tepatnya sasaran program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan. Penentuan RTS-PM RASKIN menjadi salah satu proses penting yang harus dilakukan oleh pihak TNP2K karena menyangkut subjek sasaran program. TNP2K dalam menetapkan RTS-PM merangking secara manual berdasarkan kondisi ekonomi sosial terendah dirinci menurut nama dan alamat. Proses tersebut cenderung kurang efisien karena membutukan waktu yang lama. Hasil dari penetapan juga kurang efektif mengingat banyak RTS-PM yang tidak sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Penelitian yang berjudul “Sistem Pendukung Keputusan Untuk Menentukan Jurusan Pada Siswa SMA Menggunakan Metode K-NN Dan SMART” membantu mengkasifikasikan jurusan berdasarkan nilai raport siswa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here