stop-plagiarism

Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten paling ujung timur pulau jawa yang paling luas wilayah kabupatennya. Jumlah penduduk Banyuwangi mencapai 1,56 juta jiwa. Pemerintah Banyuwangi menghadapi banyak permasalahan perkembangan jumlah penduduknya terutama pada bidang pendidikan. Angka putus sekolah di Banyuwangi masih besar di setiap tingkat sekolah. Untuk tingkat SD/MI, angka putus sekolah 0,03 persen pada 2013.Pada tingkat SMP/MTs, angka putus sekolah 0,42 persen pada 2013. Pada SMA/SMK/MA, angka putus sekolah 0,83 persen pada 2013 (Pemkab Banyuwangi, 2014). Pemerintahan kabupaten Banyuwangi mencanangkan banyak program yang dilaksanakan guna meningkatkan wilayah Banyuwangi dengan memperkuat dalam semua pilar yang ada di Banyuwangi mulai dari ekonomi, lingkungan, kesehatan, pendidikan, pelayanan umum, pariwisata dan lainnya.Salah satu pilar yang didukungpenuh oleh Pemkab Banyuwangi adalah pada pilar pendidikan. Salah satu masalah pada pendidikan di Banyuwangi dikarenakan kurangnya biaya untuk mendapat pendidikan. Banyuwangi mencanangkan program pendidikan yang bernama Siswa Asuh Sebaya (SAS) padasekolah tingkat dasar (SD) sampai tingkat atas (SMA).Hal ini digunakan untukk menekan angka putus sekolah yang ada di Banyuwangi. kurang mampu secara sukarela. Gerakan SAS untuk membangun kepedulian dan modal sosial diantara generasi muda di Banyuwangi. Jumlah rupiah untuk SAS diberikan secara ikhlas, tidak diberikan jumlah minimal untuk ikut membantu.Pada awal diluncurkan ditahun 2011, total dana SAS yang terkumpul Rp 293 juta. Pada tahun 2013 dana yang terkumpul seluruhnya melonjak menjadi Rp 1,6 miliar dan bertambah pada tahun ketahun. Total penerima manfaat mencapai lebih dari 6.000 siswa dari 309 sekolah (Pemkab Banyuwangi, 2014). Pengelolahan dana SAS dilakukan dari siswa, oleh siswa dan untuk siswa. Pemerintah Banyuwangi hanya bertindak sebagai pengawas jalannya program. Pemilihan siswa yang mendapatkan bantuan SAS dipilih sepenuhnya oleh pihak Organisasi Siswa Intra Sekolah atau biasa disebut OSIS yang ada di sekolah masing- masing. Sekolah melakukan pemilihan dengan cara pengamatan pada siswa yang dianggap kurang mampu untuk memenuhi biaya sekolahnya. Cara pemilihan seperti ini sering kurang tepat karena hanya melakukan pengamatan secara umum dengan melihat kondisi orang tua serta lingkungannya. Hal ini menyebabkan ketidak- akuratan pemberian dana SAS, Oleh karena itu diperlukan suatu sistem informasi pendukung keputusan untuk menentukan siswa yang berhak mendapatkan bantuan SAS secara akurat. Ada banyak metode pendukung keputusan untuk digunakan dalam pendukung keputusan. Dalam permasalahan pendukung keputusan pemberian bantuan SAS ini, salah satu metode yang tepat digunakan adalah metode Simple Multi-Attribute Rating Technique (SMART). Karena metode ini dapat memaksimalkan banyaknya criteria
yang ada dalam pendukung keputusan SAS. Dengan semakin banyak criteria yang dipakai, maka pendukunghasil keputusan yang dicapai akan semakin akurat. Dalam permasalahan pemilihan keputusan untuk SAS banyak permasalahan yang sifatnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here