stop-plagiarism

Lebih dari 60 tahun arah pembangunan di bidang kesehatan selama ini menekankan pengendalian terhadap penyakit menular, kondisi yang ada ternyata belum dapat tertanggulangi, tetapi pada satu sisi lain penyakit tidak menular (PTM), yang merupakan penyakit akibat gaya hidup serta penyakit-penyakit degeneratif, datanya menunjukkan peningkatan sehingga akan terjadi masalah baru bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah hiperkolesterol (Depkes, 2006). Hiperkolesterolemia menjadi menakutkan karena dapat mempengaruhi berbagai penyakit kardiovaskuler, salah satunya gagal jantung. World Health Organization (WHO) menyebutkan rasio penderita gagal jantung di dunia 1 (satu)sampai 5 (lima) orang setiap 100 penduduk, merupakan penyebab kematian utama. Datanya setiap tahun ± 12 juta orang di dunia meninggal karena serangan jantung, sedangkan di Indonesia 20 juta atau sekitar 10% penduduk Indonesia adalah penderita penyakit jantung yang menempati urutan tertinggi penyebab kematian (Depkes, 2003). Kolesterol adalah salah satu lemak tubuh yang berada dalam bentuk bebas dan ester dengan asam lemak. Lemak yang dimakan terdiri atas kolesterol lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. Karbohidrat dan lemak tersebut di dalam tubuh akan diproses menjadi suatu senyawa yang disebut asetil koenzim A. Bahan ini akan membentuk beberapa zat penting seperti asam lemak, trigliserida, fosfolipid dan kolesterol, sehingga bila tubuh terlalu banyak asupan makanan yakni melebihi kebutuhan maka jumlah trigliserida dan kolesterol akan meningkat sehingga menimbulkan hiperkolesterolemia (Dalimartha, 2001). Hiperkolesterolemia dapat juga terjadi karena beberapa faktor lain, seperti berat badan, usia, kurang olahraga, stress emosional, gangguan metabolisme, dan kelainan genetik (Dachriyanus, et al, 2007).  Pilar utama pengelolaan hiperlipidemia adalah upaya non farmakologis yang meliputi modifikasi diet, latihan jasmani serta pengelolaan berat badan. Tujuan utama terapi diet disini adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dengan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol serta mengembalikan keseimbangan kalori, sekaligus memperbaiki nutrisi. Perbaikan keseimbangan kalori biasanya memerlukan peningkatan penggunaan energi melalui kegiatan jasmani serta pembatasan asupan kalori (Anwar, 2004). Perubahan pola hidup tersebut merupakan pilihan untuk mengontrol kadar kolesterol dalam tubuh, selain upaya farmakologis atau penggunaan obat-obatan yang biasa digunakan, misalnya golongan statin
(Chanan, 2008). Modifikasi diet dianggap sebagai cara yang paling sederhana dalam upaya non farmakologis pada pengelolaan hiperlipidemia. Oleh karena itu usaha-usaha yang dilakukan oleh para peneliti pangan dan gizi adalah mendapatkan komponen bioaktif yang terdapat dalam bahan pangan salah satunya adalah pemanfaatan buah pepino sebagai penurun kolesterol darah (Dachriyanus, el al, 2007). Pepino (Solanum muricatum) adalah buah yang masih satu famili dengan keluarga terong. Berdasarkan hasil analisa laboratorium uji teknologi pangan dan hasil pertanian UGM dalam 100 gram pepino terdapat kandungan serat sebesar 1,5 gram. Jumlah ini cukup untuk menurunkan kadar kolesterol tubuh. Pada saluran pencernaan, serat akan mengikat asam empedu (produk akhir kolesterol) dan kemudian dikeluarkan bersama tinja. Semakin tinggi konsumsi serat, semakin banyak asam empedu dan lemak yang dikeluarkan oleh tubuh (Gonzalez, 2000; Riyanto, 2009). Berdasarkan uraian di atas, peneliti mencoba untuk meneliti adakah pengaruh dari pemberian buah pepino terhadap kadar kolesterol darah. Penelitian ini dilakukan secara laboratoris, karena diharapkan variabel yang digunakan lebih terkontrol dan data yang didapat akan lebih akurat (Notoatmodjo, 2002). Digunakan tikus wistar jantan karena tikus ini merupakan binatang yang biasanya dipakai sebagai binatang percobaan karena sistem hormonal dan metabolisme tubuhnya mirip dengan manusia,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here