stop-plagiarism

Acne vulgaris atau yang lebih dikenal dengan jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang sering dijumpai di masyarakat (Tahir, 2011). Walaupun bukan merupakan suatu penyakit yang mengancam jiwa, namun acne vulgaris dapat menyebabkan masalah psikologi yang serius, mulai dari perasaan rendah diri, depresi hingga stres. Selain itu, tidak jarang pula acne vulgaris dapat menimbulkan scar yang permanen pada wajah (Zaenglein et al., 2008). Beberapa laporan dari Polandia dan India menyatakan bahwa acne vulgaris dapat menimbulkan komplikasi pada wajah seperti Morbihan’s disease (pembengkakan pada wajah, selulitis, dan penyumbatan pembuluh limfatik) (Pastuszka et al., 2011) dan calcinosis cutis (penumpukan kalsium pada wajah) (Sahu et al., 2015) yang belum ditemukan pengobatannya secara khusus. Selama kurun waktu 3 tahun (2006-2008) di RSUP Dr. Kariadi Semarang, dari 10 penyakit kulit terbanyak, yang paling sering dijumpai adalah acne vulgaris. Pada tahun 2008, di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang didapatkan data penderita acne vulgaris sebanyak 39,4% (Susanto, 2009). Prevelansi tertinggi acne vulgaris yaitu pada umur 14-17 tahun, dimana pada wanita berkisar 83- 85% dan pada pria yaitu pada umur 16-19 tahun berkisar 95-100% (Tjekyan, 2008).
Menurut Athikomkulchai, et al. (2008) faktor utama yang terlibat dalam pembentukan acne vulgaris adalah peningkatan produksi sebum, peluruhan keratinosit, pertumbuhan bakteri, dan inflamasi. Bakteri penyebab acne vulgaris termasuk tipe bakteri anaerob Gram positif yang toleran terhadap udara. Bakteri–bakteri tersebut diantaranya adalah Propionibacterium acnes (P. acnes), Propionibacterium granulosum, dan Staphylococcus epidermidis yang merupakan flora normal dari kelenjar pilosebacea kulit manusia (Chomnawang et al., 2005). Bakteri ini menyebabkan acne vulgaris dengan menghasilkan enzim lipase yang memecah lipid kulit menjadi asam lemak bebas. Adanya asam lemak bebas akan menyebabkan terjadinya lebih banyak kolonisasi bakteri, memicu inflamasi, dan juga bersifat komedogenik (Zaenglein et al., 2008).
Terapi untuk mengatasi acne vulgaris adalah dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab acne vulgaris menggunakan senyawa antimikroba (benzoil peroksida, retinoid, dan sulfur) dan antibiotik (eritromisin, klindamisin, dan tetrasiklin) (Loveckova dan Havlikova, 2002). Namun, penggunaan benzoil peroksida, retinoid, dan sulfur berkepanjangan dapat menyebabkan deramtitis kontak iritan (Movita, 2013). Berdasarkan penelitian Hassanzadeh et al. (2008) P. acnes sudah mengalami resistensi terhadap tetrasiklin secara in vitro. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan di Kerman, Iran, dari 57 pasien dengan P. acnes, 31% menunjukkan resistensi terhadap minimal satu antibiotik, termasuk eritromisin dan klindamisin (Zandi et al., 2010), sehingga diperlukan pencarian senyawa antibakteri alami yang lebih efektif yaitu dengan memanfaatkan zat aktif pembunuh bakteri yang terkandung dalam tanaman. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri penyebab acne vulgaris adalah tanaman Mirabilis jalapa (M. jalapa) (Eneji et al., 2011).
M. jalapa atau yang lebih dikenal sebagai bunga pukul empat termasuk tanaman hias yang sering dijumpai di Indonesia (Dalimartha, 2006). Berdasarkan penelitian Harish et al. (2014) daun, batang, dan umbi M. jalapa memiliki aktifitas antibakteri dan antijamur. Menurut Akintobi et al. (2011) ekstrak etanol daun M. jalapa mengandung senyawa bioaktif alkaloid, flavonoid, tannin, dan saponin yang dipercaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri, diantaranya adalah Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Escherichia coli, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pneumonia (Kumar et al., 2010; Eneji et al. 2011). Belum adanya penelitian mengenai efektivitas ekstrak etanol daun M. jalapa dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab acne vulgaris menjadi dasar dalam penelitian ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here