stop-plagiarism

Pada masa sekarang melaksanakan pembangunan ini negara disegala Indonesia bidang, salah sedang satunya giat-giatnya termasuk dibidang Hukum. Pembangunan di bidang Hukum di arahkan agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga dapat tercipta ketertiban dan kepastian hukum dengan sasaran untuk memperlancar pembangunan. Hukum senantiasa dikaitkan dengan upaya-upaya untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik, sehingga dapat tercipta keseimbangan dalam masyarakat. Terhadap kenyataan ini peranan hukum menjadi sangat penting karena fungsi hukum adalah sebagai sarana pembaharuan masyarakat. Pembaharuan di bidang hukum salah satunya adalah adanya perlindungan hukum bagi anak yang lahir dari hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat tali perkawinan. Anak yang dilahirkan ini disebut dengan anak luar kawin atau over spelegkin. Hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat tali perkawinan disebut dengan perzinahan atau dalam istilah lain sering disebut hubungan gelap atau sekarang lebih dikenal dengan istilah samen leven (kumpul kebo) yang merupakan penyebab lahirnya anak luar kawin. Sampai saat ini anak luar kawin masih sulit diterima keberadaanya ditengah-tengah masyarakat karena anak luar kawin ini dianggap aib bagi masyarakat. Masalah anak luar kawin bukanlah monopoli masyarakat yang tingkat pendidikanya rendah, daerah kota yang tingkat pendidikannya dianggap lebih tinggi dan jauh lebih maju, ditunjang dengan informasi yang demikian modern, masalah anak luar kawin justru lebih banyak di jumpai. Hal ini bukan karena mereka kurang pendidikan atau kurang informasi, tapi karena mereka menganggap kebebasan adalah salah satu ciri masyarakat modern termasuk kebebasan sex. Hidup bebas tanpa ikatan perkawinan menjadi hal yang biasa di kota-kota besar. Tanpa memperhitungkan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Dalam prakteknya anak luar kawin masih sulit diterima oleh keluarga maupun oleh masyarakat. Anak yang dilahirkan diluar perkawinan sering dianggap rendah dan diperlakukan tidak layak serta tidak adil bila dibandingkan dengan anak yang lahir dari perkawinan yang sah. Perlakuan masyarakat yang negatif itu akan mempengaruhi perkembangan jiwa dan kepribadian anak tersebut. Anak akan merasa tersisih dan merasa rendah diri ditengah keluarga maupun masyarakat yang tidak menerimanya. Namun bagi masyarakat dan keluarga yang menerima keberadaannya ini akan membuat anak luar kawin tumbuh seperti halnya anak biasa lainnya. Dengan demikian anggapan masyarakat terhadap anak luar kawin ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Di dalam Undang-undangpun anak luar kawin diperlakukan berbeda dengan anak sah terutama dalam hal kedudukannya. Kedudukan anak sah yaitu memiliki hubungan perdata dengan ibu dan bapak biologisnya. Sedangkan anak luar kawin hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya Pasal 43 ayat 1 Undang-undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang selanjutnya disebut dengan Undang-undang Perkawinan, Namun Undang-undang menyediakan cara agar anak luar kawin memiliki hubungan perdata dengan ayahnya yaitu dengan pengakuan anak, atau bisa dilanjutkan dengan pengesahan anak. Anak luar kawin ini menurut KUHPerdata bermacam-macam, sedangkan menurut Undang-undang perkawinan tidak membedakannya. Adapun macam- macam anak luar kawin Menurut KUHPerdata Pasal 283 yaitu: 1. Anak zinah adalah anak yang dilahirkan dari hubungan dua orang yang keduanya atau salah satunya ada dalam ikatan perkawinan dengan orang lain. 2. Anak sumbang adalah anak yang lahir dari hasil hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang menurut undang- undang dilarang menikah satu sama lain. Selain kedua macam anak luar kawin diatas ada satu lagi anak luar kawin yang disebut anak alami. Anak alami yaitu anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan dan dibenihkan oleh seorang laki-laki dan keduanya tidak terdapat larangan untuk kawin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here